Selasa, 06 Juli 2010

MIMBAR COKELAT

PHILOSOPIA


Indah terasa saat angin ketabahan tiba
Merasakan energi bahagia walau sebetulnya itu goresan
Langit sore itu telah menjadi saksi bisu tentangku
Tentang sebuah pertanyaan kepada Maha Cinta
Pertanyaan yang semestinya tak diajukan
Tentang kenapa dan mengapa
Tentang metode dan takdir
Tentang impian dan jawaban
Mungkin hati sudah tertutup oleh debu ataupun cor-coran pasir dan semen
Tapi semuanya telah berlalu
Bahwa aku gagal dapatkan identitas itu
Identitas kuning mentari yang kucita
Konsekuen dari itu aku harus berpangkat layaknya kebanyakan semut dan rayap serta lebah
Walau sebenarnya jika aku menuruti arah angin waktu itu aku bisa menjadi bintang
Tapi semuanya aku tolak dengan sementah-mentahnya
Lebih mentah dari mengkudu dan biji pohon sengon
Buat apa menjadi bintang tapi didalamnya adalah sampah busuk
Sebusuk nanah mendidih
Hingga kulakukan apa itu angka nol yang sesungguhnya
Tapi entah kenapa pintu hati kembali tergelitik untuk dapatkan identitas yang gagal kudapatkan waktu itu
Antara pengorbanan dan harapan
Antara keyakinan dan tipuan
Telah bersemilir mengetuk pintu hati
Hingga akhirnya kuputuskan untuk pergi dengan dan tanpa jejak
Karena ku tahu bahwa hidup adalah memilih dan meyakini
Melebarkan sayap atau menutup sayap
Walau pada akhirnya keputusanku melukai arti keputusan itu sendiri
Seakan segarnya daun-daun rimba berubah menjadi asap yang mengepul
Penyesalan dan kekesalan menyelimuti jiwa dan raga
Semua terjadi karena keputusanku telah dianggap kadaluarsa
Tetapi semuanya berlalu ketika Yang Maha Cinta memberikan kesempatan kedua di sore indah itu
Sehingga kepulan asap kembali menjadi daun-daun rimba bahkan gumpalan salju
Sampai akhirnya ku bisa melebarkan langkah kakiku menuju sebuah negeri diselatan
Untuk menjawab dan mengalahkan tantangan
Semuanya seakan hanyalah mimpi
Tapi sungguh ini adalah hadiah dari Yang Maha Cinta karena keberanian
Tapi entah akankah perjalananku ini percuma?
Ku tunggu surat berstempel darimu Tuhan
Dan untukmu hai wanita terindah yang kubanggakan
Tetaplah menjadi oksigen disana yang selalu menyemangati setiap insan
Janganlah menjadi asam cuka yang meragukan
Dan janganlah menjadi arsenik yang menyakitkan
Janganlah menangis karena kesemuan cinta
Tetaplah tersenyum dan bersenandung kepada Yang Maha Cinta
Tertawalah kepadaku walau kita takkan bersama
Kecuali takdir berkata lain
Walau sebenar-benarnya aku ingin melihat tangis kerinduan darimu
Tapi sungguh aku tak merelakan air matamu jatuh selain di pundakku
Hai aku disini bahagia dengan angan dan mimpi
Tapi kuharap kau tak mengikuti langkah jejakku
Bahagialah dengan caramu
Caramu mencintai atau menafsui
Karena hidup adalah kebebasan
Untuk kelak di surga atau kelak di neraka
Karena semua milik dan akan kembali kepada Yang Maha Cinta

---akbar priyono--- sebuah perjalanan